Aku mengenalnya tanpa sengaja, karena cinta yang
mempertemukan kita, namun cinta juga yang memisahkan kita. Kala Cinta datang
terlambat penyesalanlah yang akan menjadi kekasihmu. Dia adalah manusia yang
lebih suka merenung dari pada berbicara.
Jeje
Dia orang yang ga pernah bisa aku lupain dalam
sejarah panjang hidupku. Dia kakak yang sempurna yang pernah aku miliki. Dia
pacar yang paling pengertian. sebagai seorang laki-laki dia bisa dikatakan
ganteng. Munafik jika ada yang bilang dia jelek. Kecuali dia laki-laki juga.
Hanya satu kesalahanku. MENCINTAINYA SAAT DIA AKU
TELAH MELEPASNYA PERGI dariku. Membuatnya pergi dengan hati terluka. Menjadi
satu-satunya alasan baginya mencari kehidupan baru di kota jahat dan
meninggalkan kota kelahirannya.
JOGJA ya itu kotaku, kota yang terkenal ramah tamah
dan nyaman. Kota yang menjadi saksi bisu sejarah panjang hidupku. Kota yang
menjadi saksi atas perjalanan cintaku dan jeje. Kota ini yang menjadi saksi
penantian panjang akan cinta yang berujung menyakitkan dan ketidakmampuan untuk
bertahan.
Aku melarikan diri meninggalkan jogja dan berjanji
untuk tak mengingatnya dan kenangan tentangnya lagi.
Dia
Jeje nama yang belakangan ini selalu menghiasi
hari-hariku. Menjadi topik hangat pembicaraanku dengan rara, nama yang memenuhi
inbox handponeku. Nama yang mampu memebuatku merasa bahagia walau ku tau bunda
dan ayah tak menghendaki ia berada di dekatku. Alasnannya sederhana karena dia bukan
teman sekolahku dan dia bukan anak SMA melainkan anak SMK.
Saat dia menyatakan cintanya padaku aku tak
dapat menjawab. Aku tak dapat memilih antara keluarga dan cinta. Pilihan yang
sangat sulit bagiku yang tengah di uji antara cinta dan wujud bakti pada kedua
orang tuaku. Aku takkan pernah menyalahkan siapapun kecuali diriku sendiri.
Karena semua ini memang salahku yang kuarng tegas menghadapi segala masalah
yang datang dan kuarang tegas dalam mengambil keputusan. Aku yang tak pernah
menceritakan siapa Jeje pada ayah dan bunda.
Nyatanya sekarang saat aku menceritakan
semuanya tentang Jeje ayah dan bunda dapat menerimanya bahkan menanyakannya.
Namun terlambat hati Jeje tlah aku lukai sangat dalam. Aku telah menggoreskan
luka pada penantianya yang panjang akan jawaban cintaku. Dia telah pergi ke
kota jahat di bagian timur pulau jawa. Kata tang selalu ramai, kota yang tak
pernah tidur, kota yang menyembunyikan Jeje dariku. Kota yang telah membuat
Jeje melupakan segalanya yang pernah aku lalui dengannya. Kota yang memberi
Jeje cinta yang baru. Kota yang yang membuat Jeje melupakan aku dan
menganggapku sebagai masa lalu yang kelam.
Jogja, Juli 2010
Awal semester 1 saata aku duduk di kelas XII
SMA di sebuah SMA negeri di Pinggiran kota Jogjakarta. Sahabatku
memperkenalkanku pada seseorang Bernama Jadti Aprilyantara. Yang biasa di
panggil Jeje. Kata sahabatku sebut saja Rara dia(Jeje) pernah melihat fotoku
jauh sebelum dia berkenalan denganku. Ya......aku mengenalnya dan sempat
beberapa waktu dekat dengannya. Namun semua itu perlahan menghilang seiring
dengan bertambahnya kesibukanku sebagai siswi kelas XII yang di kejar deadline
Ujian Nasional yang tinggal beberapa bulan saja.
Jogja, Agustus 2010
Tak berlangsung lama aku dan Jeje kembali dekat
atas jasa Rara yang mempertemukan aku dengannya. Masih teringat jelas saat
pertama aku bertemu dengannya. Saat itu aku pulang sekolah dan dia menjemputku.
Sungguh tak di sangka helm yang kami miliki memiliki kesamaan yang cukup
banyak. Anatar lain sama-sama berwarna putih, sama-sama bermerk “ ### ”, dan
yang paling tak disangka adalah sama-sama memiliki stiker sebuah branded
t-shirt di bagian kanan atas helm. Sungguh kebetulan yang sangat unik. Setelah
pertemuan itu aku dan Jeje semakin dekat dan mulai sering pergi bersama. Dia
sering menjemputku saat pulang sekolah, kami sering mains epulang sekolah.
Bahkan saat bulan Ramadhan datang kami sering meghabiskan waktu berdua untuk
sekedar berbuka bersama. Dia sering datang main ke rumah. Hingga suatu malam di
bulan Ramadhan dia mengungkapkan perasaannya padaku. Kurang lebih seperti ini.
“ Waktu Lyla Marah sama Jeje, Jeje ngerasa kaya
ada yang ilang, Jeje ngerasa kaya takut di tinggalin sama Lyla. Saat itu jeje
sadar kalo jeje ga bisa jauh dari Lyla dan ga mau jauh dari Lyla. Jeje sayang
Lyla. Itu perasaan Jeje yang sbenarnya maaf kalo Lyla ga suka Jeje ngomong kaya
gini. “
Aku Cuma bisa balas :
“ Hahaha...aku ga papa kok Je kamu ngomong kaya
gitu, kan setiap orang berhak mengungkapkan perasaannya pada siapapun yang ia
sayang.”
Dia bales :
“ iya, kalo Lyla berat kita jalanin dulu aja
kaya gini. Soal kedepannya mau kaya gimana terserah Lyla. Kalo emang ada
kecocokan ya mau gimana juga terserah Lyla aja.”
Setelah malam itu semua berjalan begitu indah.
Aku dan dia bagai sepasang kekasih saling menyayangi, saling memahami, saling
memeberi, dan saling membutuhkan. Hingga saat itu tiba saat dimana handphone
Jeje kehujanan dan rusak. Satu-satunya penghubung antara aku dan dia. Sempat
aku pinjamkan handphoneku ke dia namun keburu ketahuan kakakku dan dia
memintanya. Kami sempat tak berhubungan sama sekali. Aku binggung harus
menghubunginya lewat apa. Saat Rara mengatakan padaku Jeje benar-benar
mencintaiku aku menjadi ragu karena kami tak pernah saking berhubungan lagi.
Aku berusaha sekuat tenaga tak
memikirkannya lagi. Menjauhkannya dari pikiranku. Namun nihil dia tetap ada di
pikiranku hingga saat ini. Rara terus meyakinkanku betapa dia mencintaiku namun
rasa raguku mengalahkan segalanya. Selama 3 bulan yang aku tau dia hanya
menitipkan salam pada rara bahwa dia benar-benar mencintaiku. Tanpa aku
melihannya dan mendengar kabarnya. Semakin ku mencoba melupakannya semaakin
besar harapanku akan kabar darinya.
Rara selau bilang kalau Jeje menyayangiku.
Namun kenapa tak pernah ada kabar darinya. Rara bilang Jeje benra-benar
mencintaiku namun kenapa tak pernah ada sepucuk surat pun yang datang padaku.
Apa yang harus aku lakukan saat ini. Ditengah kegalauan hati yang mendalam
baktiku kembali dipertanyakan.
Jogja, November 2010
Sekitar akhir bulan November aku pergi
mencarinya berbekal rasa rindu yang amat sangat dan rasa bersalah yang
membayang. Aku datang ke rumah Rara membujuknya untuk mengantarkanku ke rumah
Jeje. Saat aku sampai di rumah Jeje tak sepatah katapun dapat keluar dari
mulutku untuk memulai pembicaraan. Sementara hati kecilku terus mendesakku
nuntuk mengucapkan kata yang seharusnya aku ucapkan sejak dulu. Sungguh saat
itu aku benar-benar ingi memeluknya dan berkata aku mencintainya amat sangat
menyayanginya. Jangan pernah lagi tinggalkan aku dan jangan pernah mencoba jauh
dariku.
Namun kenyataannya aku tak dapat berucap
sepatah katapun saat aku berada di sampingnya. Hingga waktu memisahkan kita dan
hanya tangis dan hujan yang mengiringi ku pulang ke rumah. Saat itulah
terakhirkali aku bertemu dengannya. Jeje aku mencarimu karena aku tau saat itu
dan aku baru tau saat itu ternyata apa yang di katakan Rara benar. Kamu
benar-benar mencintaiku dan menyayangiku dengan tulus. Kenapa aku baru tau
setelah aku iseng buak-buka isi Facebookmu? Kenapa aku ga tau dari dulu...
Satu catatan yang paling aku ga bisa lupa di
facebookmu. Pada tanggal 20 November 2010 kamu nulis
“
Pergilah sayang, carilah bahagiamu sendiri walaupun kau bukan milikku.”
Terus aku juga baca status kamu yang kaya gini,
“Gadis berkerudung itu memikat hatiku dan tak
mau pergi “
Ada juga yang kaya gini :
“Sepinya malam ini semakin terasa di hatiku
karna kau tak mengerti “
Aku baca semua statusnya, dan dari semua itu
aku tau betapa besar dan dalamnya cinta Jeje untukku saat itu. Aku merasa
menjadi orang terjahat di dunia. Aku ingin menebus rasa sakit di hati Jeje
dengan selalu berada di sisinya namun semua terlambat. Dia telah memalingkan
mukanya dan pergi tanpa melihat ke arahku lagi. Saat itu aku mengerti seberapa
besar sakit yang di rasakan Jeje saat aku tak mengerti cinta yang ia berikan
tulus untukku.
Maafkan aku Je... aku menyesal dan ingin
kembali...walau harus menunggu hingga kapan pun.
Surakarta, Agustus 2011
Setelah kelulusan aku memutuskan meninggalkan
kota Jogjakarta. Aku tak sanggup untuk terus berada disana lebih lama lagi. Aku
merasa tak sanggup menghancurkan kenangan yang terus berkelebat dalam ingatanku
saat aku melewati tempat dimana aku dan Je pernah membunuh waktu bersama. Aku
memutuskan melnjutkan pendidikanku di kota Surakarta. Kota kecil yang membuatku
mengerti arti hidup yang sebenarnya. Kota yang memberikanku pengertian tentang
sakit dan jatuh bangunnya mempertahankan hidup dan harga diri.
Aku memilih fakultas dengan ilmu yang padat
yang ku anggap akan dapat membuatku sibuk dan melupakkan semua tentang je. Ya
sekarang aku seorang mahasiswi kedokteran di sebuah universitas negeri terbaik
di kota kecil ini. Awalnya aku benar-benar melupakan apa dan siapa Je namun
seiring berjannya waktu bayangnya kembai hadir. Aku ingin berbagi namun semua
tak ada yang mau mengerti. Setiap detik di hidupku tak pernah lepas dari
ingatanku tentangnya. Memory kecil tentang harapan dan impian kami dimasa yang
akan datang. Memory tentang janji-janji kami selepas lebaran datang. Nasihat –
nasihat yang ia berikan saat aku marah terhadap kakakku. Hal yang tak pernah
kau temukan pada setiap laki-laki yang aku temui.
Ucapan-ucapan menyejukkan hati dan berbagai
perhatian yang engkau berikan dulu tak ada yang sanggup menggantikannya hingga
saat ini. Teringat akan pengorbanan yang kau lakukan untuk sekedar menjemputku.
Teringat akan senyum tulus yang selalu kau beri untukku setiap pertemuan kita.
Rasa rinduku tak tertahankan hingga kemudian
aku memutuskan untuk meminta nomor handphonemu dari Rara dan mencoba
menghubungimu. Betapa senang hatiku saat aku mendengar suaramu, walau saat itu
aku tau kau sedang sakit aku bahkan lupa bagaimana caranya menangis saat aku mendengar
suaramu. Bahagianya hatiku saat aku mendengar kau bahagia dan dalam keadaan
baik-baik saja. Inginrasanya kau katakan aku merindukanmu namun tak sempat aku
ucapkan karena rinduku telah menguasai otakku dan membuatnya tak berfungsi
untuk beberapa saat. Malam itu aku benar-benar merasa di atas awan. Melambung
tinggi karena ku pikir kau benar-benar tak marah padaku tak membenciku dan tak
muak melihatku. Namun semua itu terpatahkan kala aku tak mendapat balasan pesan
singkat darimu keesokan harinya. Kuberanikan diri untuk membaca keadaan dan
menebak-nebak apa yang tejadi denganmu. Nyatanya benar kau telah ada yang
memiliki. Ada yohana di sisimu yang mengisi hatimu dan menyingkirkanku
jauh-jauh darimu. Kau memintaku untuk tak mengingatmu dan tak mengganggumu
lagi. Andai kau tau perasaanku saat itu benar-benar hancur. Rasanya dunia ini
dipenuhi mendung. Aku lupa bagaimana rasnya manis, dan asin yang terasa hanya
pahit-pahit dan pahit...
Di saat itu rasanya duniaku hitam kelam tak
berwarna. Semua hanya hitam putih. Seperti tamparan yang telak mengenai pipiku
hingga tak berbentuk lagi. Seperti terjatuh dari lantai tertinggi gedung
pencakar langit hatiku benar-benar mati rasa.
Surakarta, 5 februari 2012
Belum puaskah kau menyakitiku. Entah sengaja
ataupun tidak kau membuat status facebook bertunangan di saat hari kelahiranku.
Wanita yang beruntung, mandiri cantik dan seksi. Wanita yang pantas berada di
sampingmu untuk menemanimu dalam setiap harimu esok, wanita yang kini memiliki
senyum tulusmu. Wanita yang sanggup merebut hatimu.
Selamat Je...
Terima Kasih telah memberi kado spesial di hari
ulang tahunku ini. Terimakasih telah memilih hari ini sebagai hari yang spesial
untukkmu dan dia.
Satu hal yang harus kamu tau.
Aku menyayangimu tanpa rasa benci. Dan aku
mencintaimu karena aku mengerti. Bahagialah sayang carilah apa yang kau
inginkan. Aku takkan melarangmu ataupun membatasimu aku akan selalu mengunggumu
disini dengan sejuta cinta yang tak pernah berkurang dan tak pernah terbagi.
Hanya untukmu Je...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar